Gubernur NTT Hadiri Deklarasi Paguyuban TTU-Kupang Periode 2022-2026 Di Biboki Utara.

Gubernur NTT Hadiri Pelantikan BPH Dan Deklarasi Paguyuban TTU-Kupang Periode 2022-2026 Di Kecamatan Biboki Utara.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH., M. Si Hadiri Pelantikan BPH dan Deklarasi Paguyuban TTU-Kupang di Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pantauan media di lokasi, Selasa (09/08/22) pelantikan tersebut diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan Badan Pengurus Paguyuban TTU-Kupang Periode 2022-2026.

Ketua Paguyuban TTU-Kupang, Mikhael Feka, SH. MH dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada bupati TTU dan Gubernur NTT yang telah hadir dan menyaksikan pelantikan tersebut.

“Kesempatan ini merupakan kebanggaan yang sangat luar biasa bagi paguyuban TTU. Perjalanan kami ± lebih 4 tahun. Hari ini, kerinduan kami (paguyuban TTU, red) untuk bersatu menjadi kenyataan. Beberapa hari sebelumnya, kami beraudiensi bersama bapak gubernur. Dalam audiensi tersebut, bapak gubernur mengatakan bahwa kalau lantik di kupang saya tidak hadir, tetapi kalau Lantik di Kefa, saya pasti hadir,” Ketua Paguyuban TTU mengulang pernyataan Gubernur NTT waktu itu.

Sambungnya, setelah beraudiensi bersama bapak gubernur, saya mencoba untuk mencari sejarah berdirinya kabupaten TTU lewat google.

“Awal mulanya kabupaten TTU dibentuk dan didirikan berdasarkan UU No. 69 tahun 1958 dan tanggal pengesahannya adalah 09 Agustus 1958,” ungkapnya.

Masih dengan nada yang sama, Mikhael Feka menuturkan bahwa, tanpa sengaja pada hari ini tanggal 09 Agustus 2022 kami (paguyuban TTU-Kupang) dilantik oleh Bupati TTU dan disaksikan oleh Bapak Gubernur Provinsi NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH.

“Akhirnya saya menyimpulkan bahwa penentuan tanggal oleh bapak gubernur bukanlah sebuah kebetulan, melainkan rencana Allah hadir melalui seorang Viktor Bungtilu Laiskodat selaku gubernur NTT. Oleh karena itu, kami melangkah penuh percaya diri. Kami mendirikan paguyuban ini atas dasar kekeluargaan, kebersamaan dan kegotong-royongan tanpa adanya tendensi politik dalam mendirikan paguyuban ini,” pungkasnya.

Dikatakan calon doktor muda itu, awalnya pengurus Paguyuban TTU berencana untuk melangsungkan pelantikan ini di Suba Suka, Kota Kupang pada tanggal 06 Agustus yang lalu. Tetapi, bapak gubernur memberikan tantangan bahwa apakah pengurus paguyuban bersedia untuk dilantik di kab. Timor Tengah Utara? Dan dalam tempo waktu ± 1 menit, kami (paguyuban TTU-Kupang) menanggapi tantangan tersebut dengan menjawab “iya dan bersedia untuk dilantik di wilayah TTU”.

Dihadapan hadirin/hadiran, Dosen Hukum Unwira Kupang itu menyatakan bahwa paguyuban TTU ini adalah organisasi sosial kemasyarakatan, yang selalu mau untuk bersama dalam suka dan duka. Oleh karena itu, melalui divisi-divisi yang ada dalam struktur kepengurusan, kami akan mengembangkan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh civitas paguyuban TTU-Kupang secara universal.

“Paguyuban TTU mendukung sepenuhnya program bapak gubernur yakni NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Hari ini, dan di tempat ini, tidak hanya melangsungkan pelantikan dan deklarasi, tetapi telah melakukan aksi nyata berupa penanaman pohon secara simbolis dan ini merupakan awal dari semangat perjuangan paguyuban TTU-Kupang untuk wujudkan program bapak gubernur,” ujarnya.

Diakhir kata dan didepan Bupati TTU, Gubernur NTT dan masyarakat Biboki Utara, Mikhael Feka menyatakan bahwa, secara de fakto dan yuridis paguyuban TTU telah ada serta sudah mendapatkan legalitasnya.

“Kehadiran paguyuban TTU-Kupang bukan untuk menyatukan perbedaan, tetapi dengan perbedaan-perbedaan yang ada di bumi pertiwi Biinmafo ini, kita ramu menjadi kekuatan, kita belajar dari warna pelangi. Sebab pelangi itu indah bukan karena persamaan warna, tetapi pelangi indah karena perbedaan warna. Perbedaan harus dijadikan sebagai sebuah kekuatan bukan sebagai pemisah bagi kita,” tuturnya.

Semoga kedepan, kita bisa membangun kolaborasi yang baik karena pada dasarnya membangun NTT tidak bisa sendirian, tetapi harus bekerja secara kolaboratif. Prinsip kolaboratif ini yang akan kami pegang selama masa kepemimpinan kami dalam waktu 5 tahun kedepan.

“Kami tidak menjanjikan segala sesuatu yang belum tentu kepastiannya, karena saya dan para wakil ketua dan pengurus divisi bukan orang politik, tetapi kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk kesejahteraan semua masyarakat,” tutup ahli hukum Polda NTT itu.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH., M. Si dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa, dirinya sangat gembira atas kegiatan yang oleh paguyuban TTU-Kupang di tempat ini. Dan hal itu terjadi karena faktor kebiasaan untuk kembali memulai di kampung halaman sendiri. Sebab, kadang-kadang kita sudah besar di kota, lalu lupa pulang kampung.

“Oleh karena itu, saya ingin menarik paguyuban TTU-Kupang yang juga merupakan anak muda yang hebat untuk kembali memikirkan tentang cara hidup orang Timor. Hal itu yang terus saya genjot bagi paguyuban TTU. Oleh karena itu, semboyan Nekaf Mese, Ansaof Mese harus benar-benar direalisasikan,” katanya.

Sambungnya, seperti yang dikatakan oleh ketua paguyuban, organisasi ini bukan organisasi politik.

“Berpikir politik itu harus, politicy thinking itu yang tidak boleh. Setiap organisasi berpikir, begitupun setiap manusia pun berpikir politik, karena dia manusia sosial, manusia religius, dan juga manusia politik. Jadi, jangan katakan bahwa kami tidak berpolitik, sebab hal itu nanti tidak bisa dimengerti oleh banyak orang, tetapi katakan bahwa kami berpolitik, tapi politik kami adalah politik kesejahteraan bukan politik kehancuran. Politik kami, politik keadilan, bukan politik yang menghancurkan satu sama lain,” pungkasnya.

Menurut alumnus Sekolah Tinggi Hukum Indonesia itu, momentum yang baik ini, kita harus bersepakat untuk melakukan sesuatu yang konkret dalam mengeksekusi setiap pekerjaan.

“Karena prinsip dari ilmu pengetahuan dan atau prinsip dari manusia berilmu pengetahuan itu adalah segala hal yang ada dalam peradaban mulai dari pola pikir, lalu dieksekusi melalui tindakan nyata (konkret). Kalau hanya sebatas bicara tanpa eksekusi, nanti tidak ada hasil,” ungkapnya.

Masih dengan pernyataan yang sama, Ketua Forum Pemuda Kupang-Jakarta itu menuturkan bahwa setiap intelektual harus punya creative minority.

“Berbuat sesuatu, walaupun kecil namun bisa dinikmati oleh orang lain, dalam hal ini sekecil apapun pekerjaan atau aksi nyata itu mampu berdampak bagi orang lain (teori produktif). Karena jika seseorang tidak memiliki creative minority, maka orang tersebut akan diragukan sebagai orang yang berintelektual,” jelas anggota DPR RI Fraksi Nasdem periode 2014-2019 itu.

Gubernur NTT berharap semoga semangat juang Nekaf Mese, Ansaof Mese yang sudah terpatri dalam batang tubuh kepengurusan paguyuban TTU-Kupang senantiasa diaplikasikan dalam tindakan nyata melalui program kerja yang akan digenjot oleh Pengurus dan jajarannya.

Hal senada disampaikan oleh Bupati TTU, Drs. Juandi David menyampaikan bahwa pengukuhan paguyuban TTU-Kupang dikukuhkan dan dilantik pada hari ini berkat campur tangan Tuhan.

“Pada hari ini paguyuban TTU dilantik dan berkesempatan untuk berkipra di bumi Flobamora tercinta, terutama untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat BIINMAFO, rakyat Timor Tengah Utara pada umumnya, yang ditandai dengan pelantikan dan deklarasi yang disaksikan secara terbuka pada hari ini,” katanya.

Sambungnya, sebagai pimpinan daerah kab. TTU, saya menyambut baik hadirnya paguyuban orang-orang TTU di kota Kupang.

“Dari nama wadah ini, saya sungguh yakin bahwa paguyuban TTU ini merupakan sebuah perkumpulan yang bersifat kekeluargaan, karena dibentuk oleh orang-orang yang seasal, dalam hal ini dari wilayah Timor Tengah Utara guna membina persatuan dan kerukunan diantara para anggotanya di tanah rantau, di Kupang,” bebernya.

Menurutnya, hadirnya paguyuban TTU ini berpeluang menyuburkan asas demokrasi bangsa ini, yakni pengakuan terhadap keberagaman dan kemajemukan (Bhineka Tunggal Ika) bahwa walau berbeda suku, agama, ras dan golongan tetapi kita tetap satu karena kita sama-sama anak Timor Tengah Utara yang lazim dikenal BIINMAFO.

“Khususnya bagi pribumi TTU, lahirnya paguyuban ini menegaskan kembali kearifan lokal orang Biboki, Insana dan Miomafo dalam tutur adat yang berbunyi: Boki Taek, Sana Tae, Mafo Taek adalah oref Tataf, Adik Kakak. Saya kutip slogan kearifan lokal ini sekedar untuk menyegarkan kembali memori kita akan pengorbanan para leluhur kita dimasa lampau, sehingga TTU bisa berkembang hingga sekarang ini,” tandasnya.

Dirinya berpesan kepada pengurus Paguyuban agar wadah ini bukan hanya diperuntukan bagi pribumi TTU saja untuk menjalin rasa solidaritas, tetapi berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, tutup mantan camat Biboki Utara periode 1993-1999 itu.

Turut hadir, Bupati dan Wabup TTU, Ketua DPRD Kab.TTU, Anggota DPRD Provinsi NTT, Sekda TTU, Penasehat/Pembina Paguyuban TTU-Kupang, Kadis Pertanian Provinsi NTT, Pastor Paroki Lurasik dan Pastor Rekan, Camat Biboki Utara, Kapolsek dan Danramil serta masyarakat kecamatan Biboki Utara yang berkesempatan hadir dalam kesempatan tersebut.Tim

Komentar
judul gambar
judul gambar