Tanggapan pada Puisi Felixianus Ali : Anjing – anjing Keuskupan

Kepada Felixianus Ali
seorang Wartawan, sekaligus penyair
Aku salut dengan tulisanmu
; Menyudut kaum gerejawi.

Ada apa?
puisimu penuh amarah
Bagai kehilangan cinta
; Kehilangan cinta dalam bertutur kata
pada mereka (Uskup dan Pastor-pastor Khatolik)

Kamu marah
; Tajam kata-kata mu
Seperti belati menusuk dada
sakit perih pun kau masih membangga
mengotori aksara
dengan syair penuh makna
; Penuh makna kurang etika

Gereja itu tubuhmu
ia menyatu dalam nama Bapak, Putra dan Roh Kudus.
Seperti kata-kata imam yang membabtis mu sejak kecil, dan saat itu, engkau dikenal Allah dengan nama Felixianus Ali.

Menghujat para uskup dan pastor
; menghujat gereja.
Menghujat gereja, menghujat umat.
Engkau, Felixianus seperti diperbudak teori retorika.

Felixianus Ali,
Aku tak pandai merangkai kata.
Merangkai kata menjadi puisi.
apa lagi memarahimu karena tidak belajar etika.

Malaka, 12 April 2024

Theo Kiik, seorang petani ladang. Kesehariannya hanya bekerja sebagai seorang petani. Theo Kiik tidak pernah menulis di media manapun, baik media cetak maupun media online

Komentar
judul gambar
judul gambar